Assalamu'alaikum.wr.wb...
Apa kabar, Huda? Mudah - mudahan selalu sehat wal 'afiat dan selalu dinaungi rahmat Allah swt. amin...
Alhamdulillah, kami di sana baik - baik aja. Masih ingat gak sama kami? Kami semua kangen banget loh sama kamu. Gak terasa, ya... Udah satu tahun kita gak ketemu. Gak ngumpul bareng. Kalo nanti ketemu, pasti ada yang beda. Bakal ada yang berubah. Tapi, yang penting kita nemuin jati diri kita. Siapa sebenarnya kita ini. Coba kalau waktu bisa di putar. Pengen banget mengulang kebersamaan kita dulu dan menghentikan waktu supaya gak ada yang berlalu. Itulah hidup, gak ada yang abadi kecuali Allah. Masih ingat gak kata - kata kamu dulu waktu kita masih duduk di bangku SMA kelas 2? Waktu itu kita lagi asyik - asyiknya nonton. Sampe hampir semua bioskop kita datengin. Habis itu kamu bilang seperti ini :
"Dunia ini panggung sandiwara. Ceritanya bisa berubah, menarik, dan sulit di tebak. Dan kita semua menyukainya. Tapi pertanyaannya sekarang adalah, apa dunia ini yang melahirkan sandiwara, atau karena sandiwara dunia ini ada?" Subhanallah... Kamu hebat. Kata - katanya bagus dan dalam banget. Kita salut sama kamu. Trus, masih ingat gak waktu kita bilang kalau kita adalah ilmuwan yang tertunda? Berhubung waktu itu kita nemuin alat ukur cinta yang kita beri nama Cintameter. Alat pengukur cinta yang tidak mempunyai satuan, tidak berwujud, terletak di dalam hati, dan dimiliki oleh setiap orang yang merasakan cinta. Aneh deh... Baru kali itu kita nemuin alat ukur yang gak punya satuan. Trus kamu bilang kalau hanya Allah yang tahu satuan ukur cinta itu. Ya iyalah... Allah 'kan MahaTahu. Kalau dipikir - pikir, dunia kita tuh unik, ya... Dunia kita dulu tuh mash putih polos, walaupun gak bening. Kita baru belajar mengenal warna dunia. Dan baru belajar mewarnai dunia kita. Dunia kita yang hijau, hitam, putih, merah, dan abu - abu. Masih ingat dunia hijau kita yang lucu? Waktu kita masih duduk di kelas 1 SMP. Waktu itu kita pergi sekolah bareng dan ngeliat di sepanjang jalan tuh bendera di pasang setengah tiang semua. Kita masih ingat kamu marah - marah waktu itu. Kamu bilang, "Cinta tanah air gak sih? Kok masang bendera setengah tiang gitu? Yuk, cepet naikin benderanya." Trus aku nanya,"Gak apa - apa nih? Ntar dimarahin sama orangnya lagi." Kamu jawab,"Gak apa- apa kok." Akhirnya kita sibuk tuh naikin bendera - benderanya. Mana banyak lagi. Eh, tiba - tiba Pak Hasan nongol and jelasin kalau kita lagi berkabung. Aku lupa siapa waktu itu yang meninggal. And akhirnya kita semua kembali sibuk nuruninnya lagi... Ha...ha...ha...ha... Kamu tuh ada - ada aja. Apalagi waktu ibunya Alif marah - marah sama kita karena kita pergi naik perahu sampe hampir maghrib. Parahnya, kita sendiri gak tahu tempat yang baru kita datangi pake perahu. Untung gak nyasar.Kita emang parah abizzzz... Pulangnya aja gak pamit. Boro - boro mau pamit, baru nyampe aja udah langsung di omelin sama ibunya Alif. Alif aja cuma bisa bilang,"Maaf, ya...Hati - hati di jalan. Dah...Assalamu'alaikum..." Kita nulis surat nih sampe sakit perut loh. Pokoknya ketawa total. Jujur, semuanya gak bisa dilupain. Kita jadi gak nyesal dilahirin di dunia ini. Sekarang, kita semua ngerti maksud kamu bilang,"Kenapa harus ada matahari yang terbenam di hari yang sempurna?" Kita yakin, pasti Allah ingin menyemangati kita yang berharap bisa terus hidup dan suatu hari nanti akan mengalaminya kembali. Karena waktu adalah takdir. Tidak semuanya bisa diubah dan gak bakal bisa dihentikan. Dan kita sekarang membuat satu kesimpulan kalau kisah persahabatan kita adalah kisah yang sempurna untuk dikenang (He...he...kayak lirik lagu aja...). Karena kisah yang sempurna itu adalah kisah duka yang selalu beriringan bersama kisah bahagia. Kamu masih ingat kisah kita yang paling sedih? Saat kita kehilangan Amar untuk selamanya. Sejak itu kita jadi paling benci sama lagu PeterPan yang judulnya Semua Tentang Kita. Pokoknya kalau dengar lagu itu, kita semua langsung nangis. Ya... cowok 'kan juga manusia. Karena lagu itu adalah lagu yang paling sering kita nyanyiin bersama Amar. Gak tahu juga, ya... Kok kita tiba - tiba jadi benci sama tuh lagu. Dan waktu kita berdoa semoga Allah memanggil kita serempak alias bareng. Kita gak mau ada yang sedih dan merasa kehilangan seperti saat kita kehilangan Amar. Karena kita semua merasa betapa sakitnya kehilangan orang yang kita sayangi. Kita masih sering ziarah ke pusara Amar. Kita kangen sama Amar, sama kamu juga. Sekarang kita jadi hobi loh pake sendal jepit. Tuh juga gara - gara kamu ngotot newajibin kita pake sendal jepit. Alasan kamu itu adalah penampilan paling sederhana dan bukan ciri - ciri orang pelit. Dan ternyata, lama - lama enak juga ya pake sendal jepit. Oya, adik permpuanku, Aina, sekarang udah pake jilbab. Alhamdulillah... Ingat gak revolusi kita setelah masuk SMA? Kita yang dulunya hancur banget bisa jadi kalem and cool abis, boy... Udah gak lagi godain cewek. Apalagi mau godain bencong di salon bibi Akbar. Padahal, awalnya kita tuh suka sering manjat atap sekolah supaya gak ikut mentoring agama Islam. He...he... Dasar orang - orang aneh. Kita gak sabar menunggu kepulangan kamu. Meskipun kamu masih belum bisa mengingat memori kamu yang 75% hilang akibat kecelakaan kemarin. Tapi, kita yakin Allah gak tinggal diam. Allah lihat usaha kita. Hanya mungkin belum waktunya. Dan kita yakin kalau kamu gak lupa dengan cerita - cerita tadi. Oya, kayaknya surat kita kali ini cuma sampe sini dulu. Kapan - kapan kita pasti nulis surat lagi buat kamu. Cepat sembuh, ya... Wassalamu'alaikum.wr.wb... Your best friend forever
Alif, Alan, & Akbar.
Huda melipat kembali surat yang baru selesai di bacanya. Ia ingat, pertama kali membuka mata setelah koma selama 1 minggu akibat kecelakaan lalu lintas yang dialaminya. Yang diingatnya pertama kali adalah sebuah nama, Allah, yang ternyata adalah Tuhannya. Lalu 2 nama yang ternyata adalah nama ibu dan ayahnya. Dan 4 nama, Alan, Alif, Amar, dan Akbar, teman ajrabnya sejak kecil.
Huda menatap jauh keluar dari jendela. Minggu depan dia akan pulang. Kembali bersama teman - temannya.
8 Januari 2009.
(Di bumi Allah, Indonesia, Sambas, di rumah Alan. Pukul 21.00)
...
Sobatku yang hatinya terpaut cinta Allah... Masih ingat? Salah satu dari kita pernah bilang kalau waktu adalah takdir. Tidak semuanya bisa diubah dan gak bakal bisa dihentikan. Jika suatu hari nanti kalian dapati aku sudah kembali pada-Nya lebih dulu, itu bukan karena Allah tidak mendengar doa kita yang meminta agar kita dipanggil bersama - sama agar tidak ada yang merasa sedih dan kehilangan seperti saat kita kehilangan Amar. Mungkin Allah punya rencana lain yang kita gak bakal pernah tahu apa itu. Inysa Allah, kita akan bertemu lagi di surga. Amin...
Wassalamu'alaikum.wr.wb.
Alan melipat kertas yang baru selesai ditulisinya. Lalu beranjak witir sebelum tidur.
9 Januari 2009.
Assalamu'alaikum. Dek Aina, innalillahi wa inna ilaihi roji'un. Tlong bri thu kakakmu kalau Huda sdah d pnggil Allah dlm tdurnya smlam. Ad srat dr Huda utk Alan, Alif, dan Akbar, sdah d krim lwt pos. Wassalam.
Seluruh tubuh Aina terasa lemas. Baru saja ia ingin memberitahu kalau kakaknya, Alan, dan temannya Alif dan Akbar sudah dipanggil Allah dalam tidurnya. mereka.
"Allah telah mengabulkan doa mereka." ujarnya dalam hati.
Doa dalam Surat

