Malam yang indah ini ku habiskan sendiri. Aku menatap keluar jendela. Bintang yang begitu indah menambah indahnya malam. Ku kenang masa-masa remaja ku. bahagia dan kesedihan. Itu yang ku rasakan dimasa-masa remaja ku. Ku teringat sewaktu aku dibangku Sekolah Menengah Atas (SMA).
Sewaktu liburan akhir semester, aku dan teman sekelas ku mengadakan liburan ke Pasir Panjang. Disana kami menghabiskan hari kami bersama-sama. Aku melihat teman ku yang bernama Athifa duduk sendiri ditepi pantai. Aku mendekatinya.
"Kok disini Thif, gak gabung sama teman-teman,"
"Gak,'
"kenapa,"
"Males aja,"
Athifa hnya terdiam sambil memandangi ombak-ombak di laut. Aku lalu duduk di sampingnya.
"Lu keinginan terbesarmu sekarang ini apa?"Athifa bertanya pada ku.
"Aku ingin menjadi dokter atau pun penulis terkenal dan membahagiakan kedua orang tua ku. Kalau kamu Thif?"
"Aku ingin bertemu Allah Lu,"
"Maksud kamu?"
"Meninggalkan dunia ini selama-lamanya,"
"Kok kamu ngaomong gitu sih, gak boleh lo entar dikabulin sama Allah gimana?"
"Emang itu mau ku,'
Aku tersentak mendengarkan perkataan Athifa. Aku mengira perkataan itu hanya bercanda. Tapi setelah Athifa menceritahan semua alasan mengapa Ia ingin bertemu Allah, aku baru mengerti.
"Aku udah bosan hidup begini Lu,"
"Kenapa, ada masalah dengan keluargamu"
"Sekarang Papa sama Mama ku udah cerai Lu, dan aku anak satu-satunya gak tau mau ikut siapa?"Athifa terdiam.
"Ikut Papa kamu aja,"
"Mana mungkin aku bisa hidup sama dia,"
"Kalau gitu sama Mama kamu aja?"
"Ehm........ apa lagi, mereka berdua hanya memikirkan pekerjaan dan urusan mereka masing-masing. Mereka gak peduli sama aku. Dulu hidup keluarga kami bahagia. Tapi setelah Om Jaya datang dalam kehidupan keluarga kami, semuanya jadi kacau. Papa jadi arogan dan kasar sama aku dan Mama. Mama juga jadi jarang pulang ke rumah. Kata Oma Mama selingkuh sama Om Jaya. Dan kini nasib keluarga ku udah benar-benar berantakan Lu,"
"Kamu sabarnya, jangan putus asa kaya gitu. Allah tidak akan memberi cobaan pada suatu kaum melebiki kemampuan kaum tersebut. Jadi Allah tau batas kesabaran kamu Thif,"
"Tapi kapan azal ku datang ya Lu,'
"Hus.. jagan ngomong gitu. Allah telah mengatur semuanya, jadi kita hanya menjalankan semua ini dengan sebaik-baiknya. Kita gabung sama teman-teman aja yuk,'
* * *
Seminggu setelah perbincangan kami tadi, Aku mendapat kabar kalau Athifa meninggal dunia karena kecelakaan. Aku tahu kalau ajal, maut, jodoh, dan rejeki semua itu telah diatur oleh Allah. Tapi aku masih bingung dengan kematian Athifa. Apakah kematian Athifa itu azal atau kah keinginannya yang dikabulkan oleh Allah? Aku terus bertanya-tanya dalam hati. Tapi hingga saat ini pertanyaan itu tidak mendapat jawaban. Ku rasa hanya Allah yang mengetahui jawaban dari semua ini.
Athifa

